Tuesday, February 9, 2016

Unknown

ANTARA BIDADARI SURGA DAN BIDADARI DUNIA

Teh, emangnya bidadari surga itu ada? Seperti apa? Bisa ga sih kita jadi bidadari dunia?
Pertanyaan singkat namun sarat makna itu membuatku tertegun. Menjadi seorang bidadari dunia? Bisakah?
Ketika disebutkan kata bidadari, biasanya yang terfikir penilaian dari segi fisik. Seorang yang cantik, tinggi semampai dan berkulit putih. Hingga saat terlihat seorang wanita yang memiliki ciri seperti itu, spontan ada yang berkata “wah, ada bidadari jatuh dari kayangan”. Tapi jika yang terlihat adalah sorang wanita berciri sebaliknya, maka yang terlontar “wah, ada bidadari jatuh dari got”.
Bidadari yang dilihat dari fisik versi manusia ini sesungguhnya bersifat subjektif, kembali lagi siapa yang menilai. Sedangkan bidadari surga yang sesungguhnya jauh lebih indah dari kata cantik, tinggi semampai dan berkulit putih, sehingga tidak ada istilah subjektif dalam penilaiannya.  Lalu seperti apakah bidadari surga itu? Bagaimana dengan bidadari dunia?
***
Bahasan bidadari ini bukan di lihat segi fisik, melainkan dilihat dari sisi kesholehannya. Untuk itu, dialog sarat hikmah antara Ummu Salamah Radhiyallahu ‘Anha dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallamyang dituliskan oleh Imam Ath-Thabrani ini patut dijadikan pengingat dan pengobar semangat.
***
Ummu Salamah Radhiyallahu ‘Anha berkata, “Wahai Rasulullah, Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam jelaskanlah kepadaku firman Allah Subhanahu wa Ta’ala “Bidadari-bidadari yang bermata jelita.” (Q.S. Ad-Dukhan: 54)
Beliau menjawab, “Bidadari yang kulitnya putih, matanya jeli dan lebar, rambutnya berkilau seperti sayap burung nasar.”
Aku berkata lagi, “Jelaskan kepadaku tentang firman Allah, “Laksana mutiara yang tersimpan baik.” (Q.S. Al-Waqi’ah: 23)
Beliau menjawab, “Kebeningannya seperti kebeningan mutiara di kedalaman lautan, tidak pernah tersentuh tangan manusia.”
Aku berkata lagi, “Wahai Rasulullah, jelaskan kepadaku firman Allah, “Di dalam surga-surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik.” (Ar-Rahman: 70)
Beliau menjawab, “Akhlaqnya baik dan wajahnya cantik jelita.”
Aku berkata lagi, “Jelaskan kepadaku firman Allah, “Seakan-akan mereka adalah telur yang tersimpan dengan baik.” (Q.S. Ash-Shaffat: 49)
Beliau menjawab, “Kelembutannya seperti kelembutan kulit yang ada di bagian dalam telur dan terlindung kulit telur bagian luar, atau yang biasa disebut putih telur.”
Aku berkata lagi, “Wahai Rasulullah, jelaskan kepadaku firman Allah, Penuh cinta lagi sebaya umurnya”(Q.S. Al-Waqi’ah: 37)
Beliau menjawab, “Mereka adalah wanita-wanita yang meninggal di dunia pada usia lanjut, dalam keadaan rabun dan beruban. Itulah yang dijadikan Allah tatkala mereka sudah tahu, lalu Dia menjadikan mereka sebagai wanita-wanita gadis, penuh cinta, bergairah, mengasihi dan umurnya sebaya.”
Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, manakah yang lebih utama, wanita dunia ataukah bidadari yang bermata jeli”
Beliau menjawab, “Wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari-bidadari yang bermata jeli, seperti kelebihan apa yang tampak daripada apa yang tidak tampak.”
Aku bertanya, “Karena apa wanita dunia lebih utama daripada mereka?”
Beliau menjawab, “Karena shalat mereka, puasa dan ibadah mereka kepada Allah. Allah meletakkan cahaya di wajah mereka, tubuh mereka adalah kain sutera, kulitnya putih bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasannya kekuning-kuningan, sanggulnya mutiara dan sisirnya terbuat dari emas. Mereka berkata, “Kami hidup abadi dan tidak mati, kami lemah lembut dan tidak jahat sama sekali, kami selalu mendampingi dan tidak beranjak sama sekali, kami ridha dan tidak pernah bersungut-sungut sama sekali. Berbahagialah orang yang memiliki kami dan kami memilikinya.”
Aku berkata, “Wahai Rasulullah, salah seorang wanita di antara kami pernah menikah dengan dua, tiga, atau empat laki-laki lalu meninggal dunia. Dia masuk surga dan mereka pun masuk surga pula. Siapakah di antara laki-laki itu yang akan menjadi suaminya di surga?
Beliau menjawab, “Wahai Ummu Salamah, wanita itu disuruh memilih, lalu dia pun memilih siapa di antara mereka yang akhlaqnya paling bagus, lalu dia berkata, “Wahai Rabb-ku, sesungguhnya lelaki inilah yang paling baik akhlaqnya tatkala hidup bersamaku di dunia. Maka nikahkanlah aku dengannya”. Wahai Ummu Salamah, akhlaq yang baik itu akan pergi membawa dua kebaikan, dunia dan akhirat.

Unknown

About Unknown -

Author Description here.. Nulla sagittis convallis. Curabitur consequat. Quisque metus enim, venenatis fermentum, mollis in, porta et, nibh. Duis vulputate elit in elit. Mauris dictum libero id justo.

Subscribe to this Blog via Email :